SELAMAT IDUL FITRI 1428 H

October 10th, 2007 by dastanbooks

Segenap Direksi dan Karyawan Zahra Groups
(Zahra, Dastan Books, Daras Books)

Mengucapkan

SELAMAT IDUL FITRI 1428 H
Minal Aidin Walfaizin
Mohon Maaf Lahir & Batin
Website_zahra_rev

Mind Set

September 7th, 2007 by dastanbooks

Tata Pola Pikir Anda untuk Membaca Peluang Bisnis Masa Depan & Menuai Profit

John NaisbittMinset_1

ISBN : 978-979-1208-01-7
Terbit : Juli 2007
Genre : Solusi Bisnis
Halaman : 352
Berat : 750 gram
Ukuran : 18 x 24 
Sampul : Hard Cover
Lini : DARAS - Solusi Bisnis

–Deskripsi Buku–

Tahukah Anda…

-Peluang-peluang bisnis Anda di masa depan terkandung di masa kini.
-Hasil bukan didapat dari memecahkan masalah melainkan dari  mengeksplotasi peluang.
-Dalam bisnis, jangan menambah tanpa mengurangi.
-Ekonomi China TIDAK AKAN menyalip ekonomi AS dan menjadi pemimpin ekonomi global.     Mengapa? Lalu, di mana posisi China?
-China vs India, siapa pemenangnya?
-Abad ke-21, akhir buruh murah. Malaysia dan Singapura menjadi negara tujuan   outsourcing papan atas.
-Sebelas Pola Pikir Naisbitt akan memandu Anda dalam mengeksploitasi peluang-peluang   di masa depan.

Siapa mengetahui masa depan, ia menguasai permainan. Dalam Mind Set!, John Naisbitt membuka rahasia membaca masa depan. Ia menyajikan 11 Pola Pikir sebagai kunci untuk bisa memahami dunia saat ini guna membaca peluang-peluang di masa depan. Naisbitt juga memprediksi ada lima kekuatan yang akan mendominasi dunia di beberapa dekade awal abad ke-21. Ia menyuguhkan analisis dan gambaran mendalam mengenai kelima kekuatan itu agar kita bisa mengambil manfaat dari kelimanya. Mind Set! niscaya membuka mata kita sehingga dapat melihat jauh di balik gembar-gembor headline media, slogan politik, dan berbagai opini. Dengan begitu, kita bisa mendapat gambaran yang tepat mengenai masa depan dan mengantisipasi peluang-peluang yang terkandung di dalamnya.

–Pujian-pujian–

Karya John Naisbitt ini amat sangat berguna… menyerap informasi dari segala arah dan memberi kita keberanian untuk melakukan hal yang sama.
—Wall Street Journal

Dua puluh tahun lalu buku bestseller John Naisbitt, Megatrends, memuat prediksi-prediksi yang luar biasa tepat. Tidak ada satu pun yang melenceng, hasil yang sangat menakjubkan jika kita coba membayangkan betapa sulitnya mempediksi akan seperti apa tahun 2025 nantinya.
—Financial Times

Dalam bagian pertama, 11 Pola Pikir Naisbitt mengungkap cara-cara memproses informasi tanpa terbelenggu oleh gagasan-gagasan awal dan budaya populer kita… Dalam bagian kedua, Naisbitt menampik banyak konsepsi awal kita tantang globalisasi dan persepsi kita tentang perubahan.
—Booklist

John Naisbitt melihat banyak pola tersembunyi yang tidak dimengerti orang lain… Salah satu kegeniusan John adalah kemampuannya dalam menyerap begitu banyak data, menemukan hubungan-hubungannya, dan menarik konsep-konsep global yang bertentangan dengan keyakinan masa kini.
—Steve Rhinesmith, konsultan manajemen dan mantan duta besar AS untuk Uni Soviet

Mind Set! adalah buku warisan John Naisbitt dan puncak wawasan yang ia peroleh seumur hidupnya.
—Joseph Tessitore, president of Collins

Mind Set! memuat peranti mental Naisbitt dalam memprediksi berbagai tren di dunia yang kompleks.
—USA Today

BIRDMAN: KEPAK SAYAP BURUNG POSTMORTEM

September 7th, 2007 by dastanbooks

Birdman06b_ok_1Buku : BIRDMAN
Penulis: Mo Hayder
Penerjemah: Basfin Siregar
Editor: Marvel Neydi
Terbit: Cetakan 1, September 2007
Tebal: 552 hlm; 14 X 21 cm
Penerbit: Dastan Books

Sekali lagi pembunuhan serial menjadi bahan baku sebuah novel thriller yang mencetak bestseller di berbagai negara di Amerika, Eropa, dan Asia. Novel yang bertajuk Birdman ini adalah karya debut Mo Hayder yang diterbitkan untuk pertama kalinya pada Januari 2000. Ketika membaca novel ini, saya sama sekali tidak menduga jika Mo Hayder sebenarnya seorang perempuan. Selain tidak ada informasi dalam edisi Indonesia yang menunjukkan jika Mo Hayder seorang perempuan, isi novel yang ‘keras’ meyakinkan saya jika Mo Hayder adalah seorang penulis lelaki. Tapi ternyata saya salah. Mo Hayder memang seorang perempuan, dan tidak hanya penulis lelaki yang bisa menulis dengan gaya seperti itu. Setelah Birdman, Mo Hayder juga telah menulis novel lain seperti The Treatment (memenangkan WH Smith Thumping Good Read Award 2002) dan Tokyo (di Amerika berjudul The Devil of Nanking) yang masuk nominasi CWA Dagger Award.

Birdman yang berseting Inggris ini dibuka dengan penemuan mayat seorang perempuan pekerja seks yang dibunuh secara sadis di Greenwich Utara. Perempuan ini menjadi korban kelima dari rangkaian pembunuhan dengan ciri-ciri yang hampir sama. Mereka adalah perempuan muda; beberapa di antaranya mengalami mutilasi payudara; wajah dipulas kosmetik tebal; semua diperkosa setelah mati, dan burung kecil yang masih hidup disusupkan ke dalam dada sebagai ganti jantung. Berdasarkan kondisi korban, diduga pelakunya memahami anatomi tubuh manusia dan prosedur bedah.

Setelah kasus pembunuhan ini diungkapkan kepada publik, pelaku tindakan kriminal ini dijuluki The Millenium Ripper. Sedangkan di kalangan kepolisian sendiri, ia dikenal sebagai Manusia Burung (Birdman) lantaran burung yang ditemukan di dalam dada korban-korbannya.

Jack Caffery, inspektur detektif AMID (Area Major Investigation Pool), yang terlibat dalam investigasi kasus Manusia Burung ini sangat yakin jika pelakunya seorang dari ras Eropa kulit putih, kendati ada dugaan jika ia seorang Afro-Karibia.

Keyakinan Jack terbukti dengan terungkapnya identitas si pelaku. Si pelaku adalah karyawan sebuah rumah sakit, seorang pengidap nekrofilia kronis. Tapi, apa yang dilakukan orang ini kemudian, menyingkapkan situasi lain yang mengejutkan, eksistensi sebuah kolaborasi hasrat sakit yang berawal dari sebuah insiden di kamar mayat enam belas tahun sebelumnya.

Birdman hadir sebagai sebuah thriller dengan alur cepat menegangkan sekaligus mengerikan dengan bumbu berbagai kejutan. Meski cerita bergulir cepat, penulis tetap tidak kehilangan kemampuan memberikan detail yang membuat kisahnya terkesan sangat meyakinkan. Mo Hayder bisa dibilang sanggup membuat pembaca menggambarkan dalam benak apa yang ia sajikan. Dan kemungkinan, pada beberapa tempat, akan merasa mual dengan kesan yang ditimbulkannya.

Selain plot utama, Mo Hayder juga memberi tempat untuk konflik kehidupan tokoh utama, Jack Caffery, sehubungan dengan kisah cintanya dengan Veronica dan sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan saudaranya yang terus menghantui hidupnya. Hanya, bagian ini hanya terkesan sebagai tempelan karena tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap jalan cerita utama. Tanpa konflik pribadi Jack tersebut, Birdman tidak akan kehilangan greget. Justru penambahan yang dilakukan Mo Hayder, khususnya kisah yang bersumber dari masa lalu Jack yang diungkit-ungkit sejak awal menjadi bagian yang agak mengganggu. Mo Hayder tidak menuntaskan masalah internal Jack tersebut sebagai konsekwensi hadirnya bagian itu dalam novel. Ia membiarkan bagian itu mengambang hingga novel berakhir. Sebelumnya, saya sempat menduga-duga (sambil berharap) jika pelaku kejahatan berantai itu justru saudara Jack.

Seluruh kisah yang dipaparkan Mo Hayder, sesungguhnya tetap bisa dinikmati. Membaca novel ini, saya merasa seolah-olah sedang menonton sebuah film Holywood. Apalagi, jika menilik gaya penulisan yang bergerak cepat dan mudah diikuti, seakan-akan novel ditulis dengan maksud untuk difilmkan (belakangan saya tahu, Mo Hayder adalah seorang MA bidang film dari The American University di Washington). Tapi, terasa kurang nyaman ketika penulis sepertinya tidak tahan untuk segera mengungkapkan wajah dan nama si pembunuh. Mungkin, jika Mo Hayder hanya menyebutnya sebagai Manusia Burung dalam narasinya, ketegangan akan lebih terjaga. Untunglah, walau wajah pembunuh telah disingkapkan, Mo Hayder tetap mempunyai liuk kisah yang tetap menegangkan ketika plot menapaki ending. Sehingga akhir novel tidak lalu terjebak menjadi antiklimaks.

Edisi Indonesia terbitan Dastan terbilang enak dibaca. Hasil cetaknya bagus menggunakan ukuran huruf yang nyaman dibaca. Sampulnya, seperti yang kerap tampak dari sampul Dastan, digarap seperti poster film. Penambahan catatan yang ada di halaman bagian belakang buku memberikan informasi yang berguna bagi pembaca.

Tanpa perlu membanding-bandingkan dengan The Silence of the Lambs seperti pada testimoni yang dikutip dari Daily Teleraph (flap depan), Birdman sebenarnya telah hadir sebagai sebuah novel yang layak baca, memiliki kelebihan sendiri, dan bisa menjadi menu baru dalam daftar baca penggemar novel thriller, di Indonesia.

Salam,
Jody
http://jodypojoh.blogdrive.com
http://percikanku.multiply.com

Teori Konspirasi Manusia Tegak

August 24th, 2007 by dastanbooks

Judul : Kill!
Diterjemahkan dari : The Straw Men (2002)
Penulis: Michael Marshall
Penerjemah: Ella Elviana
Tebal: 524 hlm; 14 X 21 cm
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Penerbit: Dastan Books

TEORI KONSPIRASI MANUSIA TEGAK

Michael Marshall -lengkapnya Michael Marshall Smith, adalah penulis asal Inggris yang telah menghasilkan berbagai karya berupa novel, cerita pendek, novella, maupun skenario film. Novel perdana lelaki kelahiran Inggris tahun 1965 ini, Only Forward (1994, yang ditulis menggunakan nama Michael Marshall Smith, telah memenangkan August Derleth Award dan Philip K. Dick Award. Marshall tercatat sebagai penulis yang beberapa kali memenangkan BASF Award (kategori fiksi pendek) dan British Fantasy Award. The Straw Men adalah novel keempat Marshall setelah Only Forward, Spares (1996), dan One of Us (1998).
Edisi Indonesia The Straw Men yang merupakan hasil terjemahan Ella Elviana diterbitkan Penerbit Dastan dengan judul baru, KILL!. Pada sampul depan yang provokatif, ada embel-embel kalimat: EVOLUSI HARUS BERLANJUT. Mereka yang membunuh Akan Terselamatkan. Mereka Yang Tidak, Menjadi Korban…
Kill! dibuka dengan sebuah kejadian berdarah yang terjadi pada 30 Oktober 1991 di sebuah restoran McDonald di Palmerston, Pennsylvania. Di tengah-tengah acara makan siang, dua orang pria menghamburkan peluru dari senapan semiotomatis dan menewaskan 68 orang. Salah satu pembunuh, yang masih remaja, tewas dibunuh oleh pasangannya yang lebih tua, yang segera menghilang pasca kejadian.
Sepuluh tahun kemudian –masa kini dalam novel- seorang mantan agen CIA bernama Ward Hopkins, kembali ke Dyesburg, Montana. Ia datang untuk menghadiri kematian kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil. Sehari setelah pemakaman, secara kebetulan, Ward menemukan sebuah novel terselip dalam sofa milik ayahnya, dengan secarik kertas bertuliskan: "Kami tidak mati."
Sementara itu, John Zandt yang telah meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif LAPD dan menghabiskan waktunya di Pimonta, Vermont selatan, dikunjungi oleh Nina Baynam, seorang agen FBI. Dua tahun sebelumnya mereka terlibat pengusutan kasus menghilangnya beberapa gadis remaja. Mereka sempat terlibat perselingkuhan sampai akhirnya Karen Zandt, putri John, menjadi korban kelima. John menemukan tersangka penculiknya. Nina datang untuk mengajak Zandt melanjutkan investigasi mereka. Di Santa Monica, seorang gadis remaja bernama Sarah Becker diculik dan hilang bagaikan ditelan bumi. Diduga, penculik yang sama yang dulunya digelari Anak Tukang Kirim (The Delivery Boy) beraksi kembali. Padahal John telah membunuh tersangka penculik gadis remaja yang memproklamasikan namanya sebagai si Manusia Tegak (The Upright Man).

Setelah melakukan penculikan, si Manusia Tegak memiliki kebiasaan mengirimkan sweter dengan sulaman nama korban menggunakan rambut korban sendiri kepada keluarganya. Tapi, Nina menemukan rambut yang digunakan pada sweter Sarah adalah rambut Karen.
Pesan singkat Donald Hopkins membuat Ward terusik dan ingin tahu secara persis peristiwa tabrakan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sebuah video yang ditemukan dalam VCR milik ayahnya kian mendorong Ward untuk menelisik misteri kematian orang tuanya. Pengusutan Ward yang dibantu temannya, Bobby Nygard, mengantarkannya ke sebuah perumahan eksklusif yang pernah menarik perhatian Donald Hopkins.
Secara tak terduga, dalam kabut kebingungan, Zandt menemukan kunci misteri penculikan dan pembunuhan gadis-gadis itu. Ternyata, si Manusia Tegak tidak bekerja sendirian. Seiring dengan itu, investigasi Ward dan Bobby, menuntun mereka ke dalam dunia sebuah kelompok yang menamakan diri The Straw Men. Selanjutnya, investigasi mereka akan membuhul peristiwa kematian orang tua Ward, penculikan Sarah Becker, dan penyelidikan Nina dan Zandt. Dengan si Manusia Tegak sebagai pengikat.
Masalahnya sekarang, siapa si Manusia Tegak ini? Pengungkapan wajah si Manusia Tegak tidak hanya akan menguliti keberadaan The Straw Men yang ternyata telah lama eksis, tapi juga akan mengelupas rahasia kehidupan Ward yang tidak pernah ia ketahui.
Pada klimaks yang mencekam, ketika semua plot tersimpul menjadi satu dan padu, akan terburai sepenuhnya rencana gila sekelompok manusia yang didasari oleh sebuah teori konspirasi gila.
Hadir dalam 3 bagian besar dengan 37 bab (termasuk prolog dan epilog), sejak awal Michael Marshall telah membuat pembaca bertanya-tanya ke mana plot akan digulirkan. Setelah prolog misterius yang dipaparkan secara terkendali, Marshall membawa pembaca masuk dalam beberapa plot cerita: kehidupan Ward Hopkins dan perjalanan menguak misteri kematian orang tuanya, kehidupan John Zandt dan perjuangannya memecahkan misteri hilangnya gadis-gadis dengan Nina Baynam, juga cerita penculikan Sarah Becker dan interaksinya dengan si Manusia Tegak. Pelan-pelan, di sela-sela kejutan yang dibeberkan, akan tersingkap sesungguhnya semua plot itu saling kelindan. Hanya untuk mencapai simpulnya, pembaca harus sedikit sabar. Karena Marshall bukan pencerita yang terburu-buru.
Cerita digulirkan menggunakan 2 perspektif. Perspektif orang ketiga dan orang pertama. Untuk orang pertama, Marshall menggunakan Ward sebagai narator. Entah pertimbangan apa yang digunakan. Selama membaca novel ini, saya tidak melihat perbedaan signifikan yang muncul lantaran penggunaan teknik ini. Mungkin, Marshall ingin tampil agak beda, dan ini sah-sah saja. Apalagi, cerita tetap bisa dinikmati.
Oleh Marshall, plot kelam rancangannya digelorakan oleh karakter-karakter kuat yang memiliki kehidupan yang problematis. Hasilnya, cerita menjadi lebih menarik karena tidak hanya sepenuhnya membedah kasus yang ada. Tapi juga kehidupan para karakter lebih dalam. Dan yang jelas, dengan tidak menciptakan lanturan.
Kendati wajah si Manusia Tegak telah ditelanjangkan, dilihat dari pakem sebuah novel pada umumnya, kisah dalam novel ini sejatinya memang belum tuntas. Kecuali, Marshall sengaja memberikan penyelesaian cerita seperti itu. Tapi rupanya kisah si Manusia Tegak ini telah dikembangkan Marshall dalam 2 novel berikutnya, The Lonely Dead (judul Amerika, The Upright Man, 2004) dan Blood of Angels (2005) sehingga keseluruhannya menjadi novel trilogi. Dengan demikian, kita berharap, cerita benar-benar akan dituntaskan secara memuaskan.
Embel-embel di bawah judul edisi Indonesia pada sampul depan memang benar-benar menyiratkan isi novel yang saat ini telah dikembangkan menjadi komik berseri. Jadi, tidak mengada-ada atau bombastis. Hanya, untuk memahami maksudnya, mesti membaca novelnya dulu. Embel-embel itu merupakan bagian sebuah teori gila yang tertuang dalam sebuah tulisan bertajuk Manifesto Manusia (Straw Man Manifesto), yang menjadi landasan ideal karakter antagonis utama novel.
Penasaran? Bagaimana kalau Anda baca sendiri?

**JODY SETIAWAN**

Inside The Jihad

August 24th, 2007 by dastanbooks

InsidethejihadInside The Jihad

Teroris atau Tentara Tuhan? Kisah Nyata Penyusupan Mata-mata Inggris & Prancis ke Lingkaran-Dalam Al-Qaeda & Osama bin Laden

Omar Nasiri

ISBN : 978-979-26-6517-8
Terbit : September 2007
Halaman : 568
Berat : 875 gram
Ukuran : 16 x 24 cm
Sampul : Hard Cover Jacket
Lini : ZAHRA - Politik

Deskripsi Buku

Aku mendengar serangan 11 September dari radio. Aku tahu itu bukan kecelakaan. Dan aku tahu siapa yang melakukannya.

Februari 1998, Osama bin Laden mendeklarasikan pembentukan Front Dunia Islam bagi Jihad melawan Yahudi dan pelaku Perang Salib. Ia berfatwa bahwa “membunuh orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya—baik sipil maupun militer—adalah tugas setiap Muslim yang dapat melakukannya di negara mana pun yang memungkinkan.”

Aku mengenal Al-Qaeda. Aku hidup bersama mereka selama bertahun-tahun. Aku membelikan senjata untuk mereka. Aku mengirimkan bahan-bahan peledak mereka. Aku kenal dengan para petinggi mereka.

***

Tahun 1994-2000, Omar Nasiri alias Abu Imam bekerja sebagai agen rahasia Inggris dan Prancis, menyusup ke sel-sel kelompok fundamentalis di Belgia dan London, sampai ke kamp-kamp pelatihan militer Al-Qaeda di Afghanistan. Ia mampu menyusup begitu dalam ke lingkaran-dalam Al-Qaeda dan Osama bin Laden hingga berteman baik dengan orang-orang yang diidentifikasi oleh Barat sebagai teroris-teroris paling berbahaya di muka bumi. Kemudian ia ditarik kembali ke Eropa untuk menjadi “sel tidur”.

Buku ini memuat informasi orang-dalam yang amat memikat dan provokatif tentang jaringan fundamentalis dan agen-agen intelijen yang memata-matai mereka. Nasiri menawarkan perspektif orisinal yang komplet mengenai Al-Qaeda, mengungkap fakta tersembunyi di balik organisasi militan yang dipimpin oleh Osama bin Laden itu.

***

Sebuah buku yang luar biasa. Omar Nasiri menyajikan proses bagaimana para pemuda bisa menjadi mujahidin. Pemaparan kisah hidupnya di kamp-kamp pelatihan di Afghanistan, lebih komplet dari laporan intelijen yang kami dapatkan… tidak ada bandingannya dalam komunitas intelijen Amerika.
—Michael Scheuer, Mantan Kepala Unit Osama bin Laden CIA

Pujian-pujian

Omar Nasiri (nama samaran) terlahir di Maroko dan kini tinggal di Jerman bersama istrinya.

Kisah menakjubkan dari seorang pria yang menjalin kontak dengan para pemimpin senior Al-Qaeda di kamp pelatihan di Afghanistan… Omar Nasiri berharap orang-orang mau menaruh perhatian: “Aku hanya menceritakan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri, tidak lebih…”
—CNN

Kisahnya (Omar Nasiri) mengungkap sejauh mana persiapan Al-Qaeda…
—BBC

Kisah yang menakjubkan dan apik dari Omar Nasiri yang menyusup ke kamp-kamp pelatihan Al-Qaeda…
—Washington Post