Resensi buku Deadly Triangle

Deadlytriangle04c_3Resensi buku
Suara Merdeka, Minggu 28 Okt 07
————

Perembutan Naskah Da Vinci
Oleh: N. Mursidi *)

Judul buku : Deadly Triangle
Pengarang : Lewis Perdue
Penerbit : Dastan Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal buku : 512 halaman

SEBUAH karya sastra memang tak semestinya ditulis
berdasarkan fakta, apalagi hanya sekadar merekam
peristiwa sejarah yang pernah terjadi di masa lampau.
Karena pada dasarnya fiksi merupakan capaian ikhtiar
pengarang meniti jalan berkelok dalam menerobos
"relung-relung" sejarah, juga realitas. Tak pelak,
kalau "jalan peniruan" itu yang kemudian dipilih atau
ditempuh, tidak mustahil, karya sastra yang lahir tak
ubahnya sebongkah foto hasil jepretan kamera. Indah
dan menggugah, tetapi kurang bisa mematik kesadaran
pembaca untuk berpikir kritis.

Tapi novel Deadly Triangle (aslinya berjudul The Da
Vinci Legacy; 1983) karya Lewis Perdue ini termasuk
perkecualian. Meski sebagaimana diakui pengarang yang
kini tinggal di Sonoma, California ini ditulis
berdasarkan fakta sejarah, Perdue tetap tak terjebak
pada setumpuk bahan literer "sejarah yang bisu"
melainkan dapat melangkah lebih jauh, menyeruak di
balik bilik peristiwa juga melampaui realitas dan
lorong-lorong masa lalu yang nyaris tidak terekam
sejarah.

Jika diibaratkan, sejarah merupakan kisah tentang
pertumpahan darah orang yang membunuh, mencuri, dan
bahkan melakukan berbagai hal di tengah lautan. Tak
mustahil, apa yang terjadi di tepian laut justru luput
dari perhatian. Nah, Perdue melalui novel ini dapat
diibaratkan menulis kisah mengenai apa yang terjadi di
tepian laut tersebut.

Kisah yang terjadi di tepi laut itu dituturkan oleh
pengarang dengan jalan membuka lapis demi lapis
"lingkaran maut" The Elect Brothers (kelompok biarawan
keturunan St. Peter), Nazi, GRU (intelejen kemiliteran
Rusia), dan Vatikan dalam memperebutkan naskah kuno
karya da Vinci. Awalnya, Kingsbury membeli sebuah
naskah kuno Leonardo dari keluarga Caizzi. Saat Vence
Erikson –sarjana da Vinci yang dipercaya Kingsbury–
mengamati dengan cermat, ternyata ia tahu naskah kuno
da Vinci itu dipalsukan.

Sontak, Kingsbury dan Vance ingin mengetahui "isi
dari naskah yang hilang" itu, serta mencari tahu di
balik pemalsuan tersebut. Tapi, saat Vance menyelidiki
lebih jauh, dia justru dihadang berbagai peritiwa
aneh. Tiga orang ahli da Vinci yang mau ditemui justru
meninggal dunia dan ia bahkan menjadi target
pembunuhan. Dari petunjuk yang ditulis Martini, satu
dari tiga ahli da Vinci yang terbunuh, Vance kemudian
terbang ke Italia. Jalinan kisah pun jadi berbelit,
karena Vance selalu diburu oleh sekelompok orang yang
tidak jelas beralifiasi di pihak mana.

Alhasil, novel ini selain menghibur dapat dipastikan
juga menyentak kesadaran pembaca. ***

*) N. Mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng. Kini
tinggal di pinggiran Jakarta.

Leave a Reply