Archive for November 11th, 2007

Sunday, November 11th, 2007

Ifellbadaboutmyneck_1I Feel Bad About My Neck
Leher: Musuh #1 Para Wanita

Nora Ephron

ISBN : 978-979-3972-26-8
Terbit : November 2007
Genre : Non-Fiction - Entertainment
Halaman : 236
Ukuran : 14 x 20.5 cm 
Sampul : Soft Cover Flap Doft
Lini : DASTAN - Non Fiksi

http://www.zahra.co.id/index.php?do=book.detail&id=978-979-3972-26-8

**Deskripsi Buku**


Apa yang bisa kita lakukan pada leher kita? Kita bisa mewarnai rambut, mengencangkan kulit wajah, menambah implan, atau melakukan sedot lemak. Tapi leher? Leher wanita tak bisa bohong. Tidak ada yang bisa kita lakukan pada leher kita.

Bagaimana dengan tas? Tahukah kau bahwa ada jenis tas yang membuat kita tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia kita? Dan coba tengok tasmu. Apakah tasmu kini telah berubah menjadi kuburan barang-barang bekas pakai—lipstik tanpa tutup, bungkus tisu dan permen, sisir yang sudah lama kau anggap hilang, kotak bedak yang isinya tinggal separo? Lalu, apa yang harus kau lakukan?

***

Dengan cerdas dan jenaka, Nora Ephron menuturkan suka-duka menjadi wanita. Bukunya ini telah dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia. Menjadi “bacaan wajib” para wanita yang tidak ingin menyesali hidup mereka, walau tetap harus memiliki leher…

**Pujian-pujian**


Nora Ephron sungguh jenaka… lucu dan menghibur.
—The Washington Post

Ia (Nora Ephron) telah menemukan banyak hal di keremehan hidup sehari-hari.
—The New York Times

Nora Ephron telah menguasai seni menjadi orang yang menyenangkan… I Feel Bad About My Neck bisa berguna bagi kita yang suka menyebalkan.
—The Guardian

Kelakarnya (Nora Ephron) yang jenaka selalu segar.
—People

Ephron berani bertutur jujur.
—Publishers Weekly

Sebuah buku yang jenaka…
—New York Observer

Bakatnya (Nora Ephron) dalam membentuk peristiwa-peristiwa acak kehidupan menjadi kisah-kisah yang apik membuat karyanya memuaskan.
—The Globe and Mail

Baca buku ini sebagai penangkal keputusasaan.
—U.S. News & World Report

Menghadirkan kegembiraan…
—The New York Review of Books

Membaca I Feel Bad About My Neck sama seperti makan siang bersama seorang teman dekat…
—Book Reporter

Tidak hanya jenaka… tapi juga benar-benar jujur, ditulis dengan apik…
—Trashionista

Ephron memang jenaka… tapi ia menulis kenyataan yang mustahil kau abaikan…
—EU Jacksonville

Lucu, manis… dan benar-benar jujur.
—AudioFile
 

Resensi buku Deadly Triangle

Sunday, November 11th, 2007

Deadlytriangle04c_3Resensi buku
Suara Merdeka, Minggu 28 Okt 07
————

Perembutan Naskah Da Vinci
Oleh: N. Mursidi *)

Judul buku : Deadly Triangle
Pengarang : Lewis Perdue
Penerbit : Dastan Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal buku : 512 halaman

SEBUAH karya sastra memang tak semestinya ditulis
berdasarkan fakta, apalagi hanya sekadar merekam
peristiwa sejarah yang pernah terjadi di masa lampau.
Karena pada dasarnya fiksi merupakan capaian ikhtiar
pengarang meniti jalan berkelok dalam menerobos
"relung-relung" sejarah, juga realitas. Tak pelak,
kalau "jalan peniruan" itu yang kemudian dipilih atau
ditempuh, tidak mustahil, karya sastra yang lahir tak
ubahnya sebongkah foto hasil jepretan kamera. Indah
dan menggugah, tetapi kurang bisa mematik kesadaran
pembaca untuk berpikir kritis.

Tapi novel Deadly Triangle (aslinya berjudul The Da
Vinci Legacy; 1983) karya Lewis Perdue ini termasuk
perkecualian. Meski sebagaimana diakui pengarang yang
kini tinggal di Sonoma, California ini ditulis
berdasarkan fakta sejarah, Perdue tetap tak terjebak
pada setumpuk bahan literer "sejarah yang bisu"
melainkan dapat melangkah lebih jauh, menyeruak di
balik bilik peristiwa juga melampaui realitas dan
lorong-lorong masa lalu yang nyaris tidak terekam
sejarah.

Jika diibaratkan, sejarah merupakan kisah tentang
pertumpahan darah orang yang membunuh, mencuri, dan
bahkan melakukan berbagai hal di tengah lautan. Tak
mustahil, apa yang terjadi di tepian laut justru luput
dari perhatian. Nah, Perdue melalui novel ini dapat
diibaratkan menulis kisah mengenai apa yang terjadi di
tepian laut tersebut.

Kisah yang terjadi di tepi laut itu dituturkan oleh
pengarang dengan jalan membuka lapis demi lapis
"lingkaran maut" The Elect Brothers (kelompok biarawan
keturunan St. Peter), Nazi, GRU (intelejen kemiliteran
Rusia), dan Vatikan dalam memperebutkan naskah kuno
karya da Vinci. Awalnya, Kingsbury membeli sebuah
naskah kuno Leonardo dari keluarga Caizzi. Saat Vence
Erikson –sarjana da Vinci yang dipercaya Kingsbury–
mengamati dengan cermat, ternyata ia tahu naskah kuno
da Vinci itu dipalsukan.

Sontak, Kingsbury dan Vance ingin mengetahui "isi
dari naskah yang hilang" itu, serta mencari tahu di
balik pemalsuan tersebut. Tapi, saat Vance menyelidiki
lebih jauh, dia justru dihadang berbagai peritiwa
aneh. Tiga orang ahli da Vinci yang mau ditemui justru
meninggal dunia dan ia bahkan menjadi target
pembunuhan. Dari petunjuk yang ditulis Martini, satu
dari tiga ahli da Vinci yang terbunuh, Vance kemudian
terbang ke Italia. Jalinan kisah pun jadi berbelit,
karena Vance selalu diburu oleh sekelompok orang yang
tidak jelas beralifiasi di pihak mana.

Alhasil, novel ini selain menghibur dapat dipastikan
juga menyentak kesadaran pembaca. ***

*) N. Mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng. Kini
tinggal di pinggiran Jakarta.